Selamat Datang! Di Cafebahasa dan Opini-Bambang Setiawan-Blog Informasi dan Kumpulan Opini-Jangan lupa isikan Komentar Anda demi perbaikan ke depan-Kirim artikel anda untuk diposting-bbg_cla@yahoo.com

Selasa, 31 Juli 2012

Estetika Puisi Mata Air Surga


MEMBURU ESTETIKA LEWAT PUISI MATA AIR SURGA
Oleh: Bambang Setiawan, S.Pd

“Puisi, sesungguhnya bukanlah sekadar ekspresi kreatif yang menyampaikan suara hati”, (Taufik Ismail:2006). Puisi juga tidak semata-mata berurusan dengan kreativitas yang hanya menawarkan estetika, namun mencipta puisi dengan sudut pandang yang luas akan memunculkan estetika yang tinggi. Hal ini dapat dilihat dari beberapa puisi yang ditulis oleh Aulia Murti.
Buku kumpulan puisi anak  yang berjudul Mata Air Surga merupakan kumpulan puisi yang ditulis Aulia Murti. Setelah membaca puisi-puisi dalam kumpulan Air Mata Surga, Aulia Murti mengungkap peristiwa sebagai ungkapan rasa yang terpendam, dan beberapa puisinya cenderung  mengangkat kondisi kehidupan yang aktual yang saat ini berhubungan dengan  kehidupan dan kecintaan anak-anak dalam masa pertumbuhan dan perkembangan. Auli Murti mengungkapkan bahasa puisi dengan bahasa yang terang, apa adanya penuh dengan kejujuran.
Aulia Murti dalam ke 36 (tiga puluh enam) judul puisinya sangat menonjolkan sopan santu dalam berbahasa. Sopan santun dalam puisi-puisinya dimaksudkan sebagai rasa penghormatan kepada pembaca. Artinya puisi-puisi yang disampaikan Aulia ditulis secara jelas, dan tidak membuat pembaca memeras keringat untuk mencari tahu apa yang ditulis oleh Aulia dalam kumpulan puisinya. Aulia merupakan seorang yang kreatif dalam penulisan puisi. Salah satu yang mendorong lahirnya kreativitas penulisan puisi Aulia adalah latar belakang keluarga. Karena Aulia dilahirkan dari pasangan seniman, penyair. Bahkan kakak Aulia Soco Ningrat, juga merupakan seseorang yang sangat kreatif untuk menulis dan berkarya sastra khususnya puisi.
Dalam karyanya Aulia menyiratkan bahwa puisi yang ditulisnya merupakan penyikapan atas kehidupan. Kegelisahan, kebencian, kecintaan, keprihatinan, dan kerinduan, kepedulian menjadi ekspresi kreatif bagi Aulia. Aulia dalam karyanya merupakan wanita yang penuh misteri. Segala kegelisahan yang mengental dipikirannya dieskpresikan penuh dengan estetika. Potret-potret kehidupan disoroti secara jelas, perilaku-perilaku manusia digambarkan dalam simbol-simbol yang penuh dengan peristiwa. Perhatikan puisi yang berjudul “Ibu, Surga di Mataku” yang membicarakan tentang kasih sayang. Dikatakannya bahwa kasih sayang nan lembut seperti awan yang melayangkan kata-kata. //Kuserahkan iringan puisi untukmu// yang tercipta dari kasih sayang nan lembut// seperti awan yang melayangkan kata-kata//dan nada-nada yang melintasi pipi// sepanjang masa// (Mata Air Surga, 2012:9).
Puisi Aulia Murti yang terhimpun dalam Mata Air Surga merupakan salah satu kumpulan puisi sastra anak yang tinggi nilai estetikanya, selain penggarapannya penuh dengan konsep yang definitif. Menurut Nurgiyantoro (2005:35-41) memberikan beberapa konstribusi sastra bagi anak. Sastra anak yang digarap dengan baik, dengan menonjolkan estetika dan proses kreatif yang tinggi memberikan dampak yang besar bagi perkembangan kepribadian anak dalam proses menuju kedewasaan sebagai manusia yang mempunyai jati diri yang jelas. Perhatikan puisi berjudul “Mata Air Surga” (hal 20) //tangisan ibu// adalah mata air surga// turun ke bumi// menjadi hujan// menjadi laut// menjadi sungai// menjadi lahar// tangisan ibu// adalah mata air surga//. Pada hakikatnya selain menonjolkan nilai estetika dalam penulisan puisinya, pada hakikatnya puisi Aulia Murti juga bernilai sastra dan sekaligu mengandung nilai yang besar bagi perkembangan kejiwaan anak, seperti nilai kasih sayang dan keindahan pada puisi berjudul “Kupu-Kupu” (hal.46) //Kupu-kupu kau begitu indah//terbang melayang di depan rumah//hinggap menghisap sari bunga// kupu-kupu begitu indah//sayapmu cantik menggodaku//aku ingin memilikimu//. Nuasa dan tema yang dihadirkan sangat menyentuh pembaca, bahkan menyentuh kehidupan secara umum.
Beberapa konsep yang dihadirkan oleh Aulia Murti dalam kumpulan puisi Mata Air Surga aca ciri khas yang menonjol yaitu ingin berfantasi, beriang-riang, dan hendak mencari figur. Perhatikan puisi berjudul “Ibu dan Aku” (hal.44)//Ibuku seperti akar// kokoh mencengkeram tanah// ibuku seperti pohon// tangguh menahan angin// ibuku seperti ranting// penjaga daun agar tak lepas// ibuku seperti daun// pelindung dari terik matahari//. Dalam puisi ini pembaca yang masih anak-anak dapat memupuk pertumbuhan berbagai pengalaman (emosi, rasa, bahasa) personal (kognitif, sosial, etis ) eksplorasi dan penemuan, namun juga petualangan dan kenikmatan yang digambarkan dalam puisi-puisi Aulia Murti.
Selain itu karya-karya kreatif Aulia Murti, juga menyentuh rohani anak. Jiwa anak semakin subur, kian berkembang dengan penulisan puisi yang menantang. Perhatikan puisi berjudul “Ramadhan Sore itu Begitu Indah” (hal.18)//Sore di akhir Ramadhan// aku, ibuku, dan mamasku// memasuki ruang di perut burung besi// ...//Alhamdulillah,”ujar kami sebelum turun  dari perut pesasat// ..//Azan magrib tiba// buru-buru kami berbuka//”Alhamdullilah, Rahamdhan sore itu begitu indah,”//. Puisi-puisi Aulia Murti selain menonjolkan nilai esetetik, juga mengandalkan kekuatan imajinasi. Artinya Aulia dalam berkarya menawarkan petualangan imaji kepada pembaca, khususnya anak-anak. Dengan membaca puisi-puisi Aulia dalam kumpulan Mata Air Surga, imaji dan emosi anak dibawa berpetualang ke berbagai penjuru untu menemukan pesan yang disampaikan penyair sendiri. Secara tidak langsung melalui karya kreatif Aulia Murti pembaca diajak menjalin interaksi estetis.
Aulia dalam puisi-puisinya menghadirkan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami sebagai stimulus. Artinya bahasa yang sederhana sebagai landasan pembentukan gagasan-gagasan dan reaksi yang terjadi. Dalam hal ini pembaca menerima puisi sebagai perangkat stimulus berdasarkan pengalaman dan pengetahuannya. Hal ini terlihat dalam puisi berjudul “Garuda” (hal.28)//Tajam mata menusuk matahari//jemari mencengkram Bhineka Tunggal Ika//tautkan suku bahasa Sabang Merauke// ...//Kidung Indonesia Raya//jendela hati yang menyatukan adat dan budaya//...//Kami anak Indonesia//senantiasa merindukan bentangan sayapmu//yang melindungi kami dari deru gelombang barat//. Aulia menuliskan puisi ini sebagai rekontruksi proses kreatif (asal mula, tujuan, pikiran-pikiran) dan secara detail memamparkan kidung Indonesia Raya yang menyatukan adat dan budaya.
Aulia dalam karyanya telah berhasil menaruh respon kepada pembaca dalam penyampaian gagasan dengan melalui pendukung keestetisan puisinya. Bahkan variasi individual dalam berkarya muncul dengan cita rasa estetis. Keestetisan ini dapat dilihat pada puisi berjudul “Surga dan Neraka” (hal.35)//Surga itu jernih// bening dari omongan hina// surga itu suci// putih dari hati yang berdebu// surga adalah pelindung orang-orang yang berwudhu//surga merindukan orang yang bertaqwa//. Puisi yang dihadirkan bertemakan surga dan neraka ini menarik dan mengejutkan. Aulia membuat kesepakatan dalam syair puisinya secara tegas bahwa surga itu jernih dan neraka itu kelam. Secara tegas puisi yang dihadirkannya dapat mengubah emosional pembaca. Sehingga pembaca akan menemukan cermin dan sikap (perilaku) atas gejolak yang ditulis Aulia dalam puisi berjudul “Surga dan Neraka”, yaitu surga dan neraka adalah pilihan.
Secara keseluruhan, antologi puisi Mata Air Surga yang diluncurkan  pada hari Kamis, 14 Juni 2012, di Taman Budaya Jambi ini laksana suara hati seorang anak manusia yang mencoba memasuki dan memahami serangkaian harapan dalam hidupnya, yang ditulis melalui dunia kata. Kata yang mengandung nilai estetis. Yaitu sebuah pesan melalui kata-kata  untuk membuka jendela komunikasi melalui karya cipta puisi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar